Skip navigation

Mangkuk itu biasa-biasa saja, tidak besar tidak juga kecil, sedang. Warnanya putih suram mungkin karena jam terbangnya sudah sangat tinggi. Dibagian luarnya bergambar patrun artdeco garis-garis kotak-kotak.
Malam itu si mangkuk terlihat sangat seksi, bukan karena bentuknya namun karena tambahan aksesoris di dalamnya. Kuah kental kuning pekat dengan aksen kemerahan dan minyak yang menggenang di atasnya, butiran tipis ampas bumbu becampur koya yang bergejolak naik turun, dan taburan bawang goreng coklat mengkilat hampir memenuhi si mangkuk. Sisanya, bagian dalam atas, masih terlihat warna putih namun berkeringat minyak dan kotor bumbu. Lebih seksi lagi karena elemen inti dari konsep tampilan malam itu, si mangkuk memilih the lust kick kills (halah).

Pagi ini saya terima link web dari seorang teman yang memang biasanya sering bagi-bagi link lewat IM. Terus terang seringnya saya tidak pernah buka link yang dia kasih, karena kalau bukan gambar-gambar porno pasti gambar-gambar tragis yang mengganggu. Bukannya saya tidak suka, tapi too much.

Sampai pada link yang dia kirim lagi ke IM saya , http://alandakariza.com/ibu./ dan karena kerjaan di kantor tidak banyak, saya ladeni saja kiriman teman saya ini. Ternyata isinya adalah sebuah blog dari seorang anak 19 tahun benama Alanda. Dalam page ini dia bercerita tentang perasaannya sebagai seorang anak yang ibunya divonis 10 tahun penjara dan denda 10 miliyar rupiah karena menjadi tersangka kasus Century. Cara bertuturnya baik sekali karena ternyata Alanda juga seorang penulis buku, kontennya out standing buat saya karena kisah pilu dan kemarahannya yang merasa tidak mendapatkan keadilan di negeri ini dituangkan sangat elegan, bukan cengeng-cengengan.

Di akhir tulisannya, Alanda memohon agar pembaca ikut mendoakan ibunya yang hari kamis besok (10/2 2011) membacakan pledooi atas tuntutan pengadilan. Tentu saja doa agar ibunya terbebas dari semua tuntuan.

…Hari Kamis, Ibu akan membacakan pledooi (pembelaan) di PN Jakarta Pusat. Ibu akan menceritakan seluruh kejadian yang beliau alami dan mengapa seharusnya beliau tidak mengalami tuduhan apalagi tuntutan ini. Saya mohon doanya buat Ibu, walau mungkin Anda tidak pernah mengenalnya. Ia berjasa besar bagi saya, dan saya yakin, bagi banyak orang di luar sana. Beliau membutuhkan doa, dukungan, dan bantuan dari banyak orang. Even if I have to let Indonesian Youth Conference go, even if I have to work hard 24/7 to live without having to ask for allowances from my mother… I’m willing to do so. I just want her to stay with me… instead of behind those scary bars. I just want her to witness everything that I will achieve in the future. I just want her to see my little sisters grow up, beautifully. I just want her to always be there around the dining table, and we’ll have dinner together. I just want her to cook again for the whole family on Sunday mornings. I just want her to let me drive for her when she has to go somewhere. I just want her to listen to my stories about my boyfriend, my friend, campus life, or silly little things. I just want her here… Here. I love you, Mum. I do… :’(“

 

 

Silahkan kunjungi blognya, …….dan berdoa dimulai.

Umur perusahaan adalah tak terbatas, sekali perusahaan itu didirikan semestinya harus tetap ada hingga akhir masa. Namun, tidak sedikit perusahaan yang didirikan tidak dapat bertahan dan akhirnya mati. Berbicara tentang hidup dan mati tentu saja berkaitan dengan makhluk, dan memahami perusahaan sebagai sebuah makhluk akan mempermudah kita untuk mengenal serta mengelolanya. Pemahaman bahwa perusahaan adalah makhluk yang akan tumbuh dan memiliki daur hidup sendiri.

Belajar dari daur hidup makhluk hidup, urutannya adalah lahir, bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, lansia. Bentuknya adalah dari kecil membesar, mungkin daur hidup yang lebih filosofis adalah From nothing to something. Namun, dalam beberapa text book disebutkan bahwa perusahaan juga punya daur hidup sendiri yaitu; tahap pengenalan, tahap perkembangan, tahap kematangan (mature), dan tahap penurunan. Bisa saya katakan bahwa pada prinsipnya sama saja.

Melihat sebuah daur hidup dalam perusahaan akan sangat mempermudah kita dalam mengelolanya, atau setidaknya kita menyadari apa yang kita lakukan adalah sesuai dengan tahapnya. Gambarannya adalah jangan memberi nasi ketika seorang anak manusia masih bayi, berilah ia bubur atau bahkan cukup dengan asi. Jika masuk kedalam contoh misalnya pada tahap pengenalan yang dibutuhkan perusahaan adalah investasi promosi bukan fokus kepada target pendapatan.

Jika daur hidup perusahaan kita ketahui jelas, pemberian nutrisinya juga akan pas. Tidak kurang tidak lebih.

Misi adalah sebuah tugas dan harus diselesaikan. Ketika kita menjadikan visi sebagai sebuah tujuan peranan misi adalah upaya kongkrit dalam mencapai tujuan tersebut. sebagai contoh bila visi kita adalah menjadi perusahaan yang bermartabat, misi harus kita arahkan untuk tujuan tersebut. breakdown-nya kira-kira sebagai berikut:

  • visi : menjadi perusahaan yang bermartabat
  • definisi bermartabat : memiliki integritas yang tinggi sehingga mampu menghasilkan output yang berkualitas, dengan kualitas kita akan memiliki kredibilitas yang baik, dan ketika kredibilitas kita baik kita akan disegani oleh kawan maupun lawan.
  • sehingga misi kita :
  1. pembangunan integritas SDM
  2. pemenuhan kelengkapan alat kerja (sarana dan prasarana)
  3. pembentukan budaya perusahaan yang profesional
  4. dan lain lain.

Misi merupakan bahasa turunan dari visi yang lebih mengena keseluruh aspek. Dalam tahap brainstorming kita diperbolehkan memiliki misi sebanyak-banyaknya, namun pada saat pengambilan keputusan dan implementasinya sebaiknya dibuat skala prioritas serta penyederhanaan. Misi harus lugas dan jelas karena ia adalah sebuah tugas.

    Kecenderungan memaknai visi sebagai cita-cita harus didefinisikan dengan jelas. Cita-cita bukanlah angan tanpa peta akan tetapi sebuah tujuan akhir dari semua jalur-jalur kita. Mendefinisikan visi bukan berarti menyempitkan maknanya tetapi memperjelas maksudnya. Mendefinisikan visi agar peta kita tidak buta.

    Sebuah visi harus lahir dari tujuan bersama bukan arah yang dipaksakan. Namun, tentu saja tidak mudah untuk menyatukan keinginan banyak orang dan mengekstraknya dalam sebuah visi. Jika memang tidak semua keinginan bisa diakomodir, dibutuhkan seorang pemimpin mampu untuk berpikir intregal, berpikir sekarang dan masa yang akan datang, serta merumuskan tujuan atas nama bersama. Tidak berhenti sampai situ, tugas pemimpin pulalah yang harus memastikan bahwa visi merupakan tujuan bersama yang sama semangatnya dengan tujuan setiap orang. Memastikan bahwa semua berada pada gerbong yang sama dan siap menuju tujuan yang sama.

    Sebuah visi harus terukur jelas meskipun redaksionalnya sangat umum. Katakanlah visinya ingin menjadi perusahaan yang bermartabat, sejahtera, dan mendunia. Kesemua ini harus terukur jelas seperti seberapa bermartabat? apa gambaran sejahtera itu? mau mendunia seperti apa? dan lain sebagainya.

    Terlepas megah tidaknya sebuah visi, ia membutuhan seorang pemimpin, harus terdefinisi dengan jelas, dan harus terukur. Agar peta kita tidak buta.

    Saya masih menganggap bahwa branding merupakan ‘virus’ laten bagi konsumen yang notabene adalah kita semua, namun disisi lain saya juga yakin bahwa injeksi virus ini sebenarnya sudah sampai pada batas elastisitas kekuatan dimana konsumen telah mampu menangkal dengan ‘antivirus’-nya masing-masing. Sebuah antivirus yang lahir dari pola pikir, karakter serta gaya hidup si konsumen. Walaupun beragam, pada dasarnya setiap antivirus tersebut memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama menilai sebuah brand berdasarkan esensi kualitasnya.

    Pemahaman ini bisa lebih mudah kita mengerti apabila kita melihat fenomena branding pada produk-produk sejenis serta ‘bermain’ di pasar yang sama. Salah satu contohnya adalah fenomena branding pada bisnis waralaba kuliner (kebab, burger, dan lain-lain) yang beberapa waktu lalu naik daun. Brand-brand waralaba kuliner tersebut muncul dengan masing-masing kekhasan tampilan dan slogannya yang diyakini sebagai strategi branding dengan harapan brand mereka dapat menjadi virus terkuat yang tak terkalahkan oleh setiap antivirus konsumennya. Saya yakin kebanyakan dari mereka menganggap bahwa hal yang mereka lakukan adalah apa yang disebut sebagai sebuah strategi branding, yang sudah cukup manjur untuk dijadikan sebagai formula jitu untuk menginjeksi konsumennya. Padahal pada kenyataannya persepsi demikian sebenarnya adalah salah, karena yang mereka lakukan hanyalah menitik beratkan pada ‘tampilan luar’-nya saja, sekedar mengutak-atik tampilan visual sebuah brand identity misalnya tentang logotype, colour scheme serta berbagai pernak-pernik graphic standard manual lainnya.

    Terus terang kondisi diatas hanya berangkat dari sebuah hipotesis, dimana saya menduga proses branding yang mereka lakukan hanya didasarkan pada duplikasi ‘kulitan’ dari brand pionir yang sudah terbukti sukses. Gambarannya adalah sebagai berikut, katakanlah X adalah brand dari sebuah produk kuliner yang membawa attitude dan atribut kuliner modern a la plaza menuju kaki lima dan mendapat sambutan yang luar biasa dari konsumen, serta bisa dikatakan sukses besar. Lalu, karena kisah suksesnya tersebut, strategi branding X diikuti oleh brand-brand baru dengan produk sejenis, dimana mereka umumnya sedikit sekali berusaha, tak lain hanya sekedar mengekor. Beberapa diantaranya bahkan secara gamblang sengaja memirip-miripkan nuansa tampilannya dengan brand X.

    Walaupun hanya sekedar hipotesa, kejadian ini diperkuat dengan istilah dalam teori branding yaitu istilah brand ‘me too’ alias brand yang muncul di pasar tanpa nilai lebih apapun selain tampilan yang meniru brand-brand sudah ada (Inggris: existing) lainnya yang telah sukses, dengan harapan mampu menjadi pesaing dan pada akhirnya bisa merebut—atau setidaknya ikut mendapatkan—sebagian potongan ‘kue’ pangsa pasar.

    Proses branding atau lebih tepatnya brand management yang benar seharusnya lebih menitik beratkan pada esensi kualitas. Lebih lanjut—dengan menggunakan kasus yang sama sebagai contoh sebuah esensi kualitas—saya yakin brand X mampu sukses karena telah berinovasi hingga sanggup memunculkan nilai lebih pada sebuah kuliner jajanan kaki lima yang pada umumnya jorok, tidak higienis serta bertampilan buruk menjadi sebuah jajanan yang lebih baik. Tidak seperti brand-brand follower-nya, bahkan brand X bisa dibilang sebagai pionir pemberi pengalaman berbeda bagi konsumen kaki lima.

    Brand-brand lainnya yang hanya sekedar mengekor (me too) bisa dipastikan tidak akan bertahan lama, dan kalaupun mampu bertahan lama tentu saja mereka tidak akan pernah berkembang kecuali mereka muncul dengan inovasi-inovasi baru yang menumbuhkan nilai-nilai lebih bagi mereka dibanding brand tandingan lainnya. Lebih jauh lagi, praktik branding seperti demikian dapat mengakibatkan stagnasi dalam roda bisnis brand itu sendiri, seperti halnya kisah bisnis waralaba kuliner di negeri ini sekarang.

    Sebagai empunya brand, mau tidak mau kita harus mengakui bahwa sebagian besar konsumen telah memiliki antivirus yang memang sudah cukup ampuh dalam hal tangkal-menangkal. Dengan memiliki awareness akan esensi kualitas dalam strategi branding, sebenarnya kita mampu menciptakan virus yang tak tertangkalkan oleh setiap antivirus konsumen kita, sehingga akhirnya mampu tertanam di benaknya.

    Bayu Prasetya, graphichapter.

    Sadar atau tidak sadar, kita telah terjangkit sebuah ‘virus’ yang berbahaya. Virus ini menyerang kita tidak hanya melalui satu indra saja, namun hampir seluruh panca indra kita, dan bernaung di benak kita bahkan hingga akhir hayat. Mungkin kiasan ini terlalu melebih-lebihkan, tapi inilah fenomena manusia dan brand. Dan virus-virus yang saya maksud tersebut adalah virus brand. Misalnya, apa yang akan anda sebutkan bila saya berkata pompa air? Kalau jawaban anda adalah Sanyo, maka jawaban tersebut sama persis dengan hasil riset kecil-kecilan saya kepada beberapa teman yang saya tanyakan secara personal, maupun kepada teman mahasiswa dalam sebuah kesempatan dalam kelas disaat perkuliahan. Sebenarnya metode ini belum kuat untuk membuktikan bahwa virus brand telah menjangkiti kita, namun saya bisa pastikan ini adalah sebuah fenomena, bahwa seluruh—atau setidaknya sebagian besar dari—populasi manusia yang hidup di era modern saat ini telah terjangkit.

    “Produk diciptakan di pabrik dan brand diciptakan di benak konsumen.” Pernyataan yang menyebutkan bahwa pada harfiahnya sebuah brand dimaksudkan untuk bertindak ibarat virus yang menjangkiti targetnya, dengan maksud memberikan efek dahsyat yang spesifik, tentu saja sesuai dengan tujuan awal sang pembuat virus. Dari penjelasan di atas, sebagai sebuah brand, secara harfiah Sanyo bisa dinyatakan berhasil, secara efektif telah mampu menanamkan virusnya di benak konsumen. Dimana sebaliknya banyak brand-brand lainnya yang dibuat dengan maksud untuk menjadi sesukses Sanyo, namun jarang sekali berhasil. Sebagai contoh, saya teringat seorang teman berbicara tentang pengalamannya saat membeli makanan ringan kesukaannya, krupuk. Ia terheran bagaimana dari berbungkus-bungkus krupuk di beragam warung kopi yang berbeda itu, walaupun pada masing-masing bungkusnya tertera brand yang berbeda-beda juga, namun ia jarang sekali menghiraukannya. Karena pada intinya secara sepintas semuanya memang terlihat serupa, sama-sama krupuk yang dibungkus plastik, dan walaupun masing-masing plastiknya memiliki simbol penanda brand tertentu, perbedaannya tidaklah terlalu signifikan. Bisa dibilang produsen krupuk-krupuk tersebut telah gagal dalam menciptakan sebuah brand yang berfungsi efektif, walaupun saya yakin aktifitas pemberian label tersebut dimaksudkan untuk membuat produk dikenali oleh konsumennya. Dari cerita Sanyo dan krupuk-krupuk tersebut, semua produsen pasti menginginkan aktifitas branding-nya berakhir dengan kisah sukses seperti Sanyo.

    Aktifitas mem-branding sebuah produk dimulai dengan memberikan nama pada produk tersebut. Dan memang jika kita tarik pembahasan ini sedikit lebih teoritis, ada beberapa prinsip dasar yang bisa kita pegang dalam menamai atau memberikan brand pada produk kita. Prinsip-prinsip dasar penamaan tersebut antara lain: mudah untuk diucapkan, mudah untuk diingat, mudah untuk dikenali, menarik perhatian, serta terbedakan (Inggris: distinguished) saat berada sejajar dengan produk serupa.

    Kisah sukses Sanyo tentu saja bukan hanya kesuksesan proses penamaan terhadap sebuah produk semata, namun dibalik itu ada sebuah perjalanan panjang (baca: brand management) yang juga dilakukan. Tapi setidaknya proses menamai produk dengan memikirkannya secara serius merupakan langkah awal untuk memastikan bahwa aktifitas branding tidak ibarat melempar sekeping koin, dimana hasilnya tidak bisa dengan mudah diprediksi. Karena sebenarnya proses branding harus dilakukan atas dasar prediksi-prediksi yang mengarah kepada kepastian.

    Lalu, sudah efektifkah brand anda saat ini? Sudahkah anda memiliki prediksi-prediksi tentang bagaimana atau mampukah brand anda menjangkitkan virusnya di benak konsumen?

    Bayu Prasetya, graphichapter.

    Banyak teman memang sangat menyenangkan, banyak pula yang dapat dilihat. Beberapa adalah teman yang sangat bagus tampilannya, dandannya pinter, cenderung fashionable. beberapa lainnya biasa-biasa saja, cenderung cuek ala kadarnya. Saya pikir tampilan memang perlu dan berpenampilan bagus memang lebih punya value dari yang ala kadarnya. Value ‘sedap dipandang’. Strategi jitu menegaskan eksistensi sesuai selera kejamakan hehe

    Umpama kita sedap dipandang, trus orang lain tak segan-segan berhasrat untuk memandang. minimal mereka sadar akan keberadaan kita dan tertarik, kira-kira value apa lagi yang perlu kita ciptakan?

    Berapa banyak kita mengenal brand? dari semua itu, brapa banyak brand yang menonjol keberadaannya (top 5)?, dari yang menonjol itu brapa banyak brand yang kita ketahui dengan benar  produknya? dari yang kita ketahui dengan benar, brand apa yang kita cintai (favorit)?

    Saya bisa bilang produk yang brand-nya jadi favorit adalah produk dengan branding yang berhasil, good branding.

    well, we can also says that the question above, represented indicator of  how to developed good brand. There is 4 indicators (so basic) base on mesuring good existing brand:

    1. awareness – audience must knows our brand

    2. differentiation – audience can differentiate our brand (positive think) from another, stick out couse it’s different

    3. association – audience have good product knowledge about our brand

    4. response – brand can leverage audience desaire to take action as same as product objective

    Most ‘top of mind’ brand has this 4 basic aspects, and it can put up added value for their product.

    struck… hoho!

    Sebenarnya ide ini tiba-tiba saja munculnya, saya tidak yakin juga apakah momentum memang faktor penting bagi sebuah pencitraan. Jadi critanya ketika kantor lagi kena deadline buat besok, semuanya serius didepan monitor masing-masing (ada 6 motinor). Sesekali riuh menertawakan nasib, karena memang sudah 4 hari kondisi ini berlangsung.

    Tiba-tiba saya berpikir untuk mengambil foto dari situasi ini, suasana kantor yang semrawut tapi sangat dinamis a.k.a kliatan sibuk he..he.. siapa tau bisa jadi bahan presentasi ke klien.

    Kaitannya dengan citra, bahwa kondisi sibuk adalah momentum yang mungkin saja bisa jadi obyek positif dari kantor saya

    sibuk >>> serius bekerja >>> klien pasti suka >>> :p

    Jadi mulailah melek momentum, jangan sampai kita kehilangan obyek positif kita. ah tapi kembali lagi, saya benar-benar tidak yakin dengan konsepsi ini. fun!

    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.